Refleksi di Awal Usia

5 02 2010

Dua hari satu malam ketika saya berada di Yogya. Dua cerita dunia gelap menjadi babak cerita bersambung yang entah kapan bisa diselesaikan. Semuanya mengenai hubungan cinta. Yang satu terus menerus disakiti oleh sang pacar, baik secara ucapan maupun tindak laku. Yang satu berharap si Idola sejalan seperti skenario di alam pikirnya sendiri. Dan kedua-duanya tidak tahu kapan menghentikan babak dan berganti ke buku lainnya.

Kita memang sering terdiam disatu tempat tanpa beranjak kemana-mana. Menggeluti sesuatu tanpa berniat meninggalkannya. Menjadi kebiasaan  berlama-lama bercanda bersama malam.Terlalu nyaman atau tidak sadar bahwa diri tetap ditempat.

Ada yang pernah bilang, hidup adalah tangga yang harus didaki. Setiap kita lulus di setiap anak tangga, maka kita akan naik ke tahap selanjutnya. Tetapi jika tidak, kita akan terus berada disana. Jika pun merasa naik, sebenarnya kita berkutat, berputar di lokasi yang sama.

Saya sudah menjalani banyak anak tangga. Memutari beberapa tingkatan. Merasa sudah lulus ternyata belum. Berjalan sejajar tetapi merasanya sudah jauh sekali mendaki. Saya juga pernah menangisi cinta. Depresi kehilangan. Ingin menghentikan waktu dan berharap semuanya kembali normal. Tetapi ya tidak bisa. Memang itu yang harus dijalani dan itulah yang terbaik. Terbaik belum tentu menyenangkan.

Mendengar dua drama kelam mereka. Membuat saya jadi terdiam. Saya pernahkah di posisi itu? Pernahkah saya enggan untuk bangun? hm.. sebuah refleksi di awal usia baru saya





Jika Boleh

16 11 2009

Jika boleh, biarkan saya menggambar kotak atau lingkaran atau garis atau apa pun yang tidak seselera dengan kamu. Biarkan saya meminta sedikit udara dari udara yang ada disekitar kamu. Dan biarkan saya telentang dan membentangkan kedua tangan saya.

Jika boleh, saya mau kok untuk bercerita dan berbagi rasa dengan kamu. Malah saya ingin membagi sedikit memori dalam otak saya. Itu kalo kamu tidak berkeberatan.

Tolong, jangan sita waktu kamu dengan melihat baju saya. Jangan terus berkaca dan bertanya “Siapakah yang paling menarik didunia ini…”

 





Tak Ada Komentar

27 05 2009

mungkin saatnya berdiam diri. tidak berbicara apa-apa.

sudah saatnya tidak mengingatkan dan hidup dalam alam pikir sendiri.

antara yang benar dan salah

antara yang salah dan benar

mari kita terima apa adanya mengapa bulan bergantian dengan matahari. tanpa mempertanyakan.

tidak usah berkomentar. tidak usah bertanya.

itu saja….

selesai





patah arang, hati, dan ratusan patah lainnya

23 04 2009

tak bicara saja sudah sakit. tak menatap saja sudah luka. ingin merasakan sedikit saja, pernah sempat berbunga. kemudian sekarang tertampar dan melihat kenyataan “Hai kamu..siapa kamu yang mau menanggung kamu?”

patah arang tiada dua, luka hati kembali mati

ingin tak berharap, apa daya manusia punya keinginan. 

jalani kembali jalan setapak….melihat dunia yang sangat indah…….





limbah air mata

14 04 2009

Tubuhku penuh dengan airmata, katanya. Siap tumpah kapan saja. Aku sadar itu. 

sumber air mata ada dalam jiwaku, menyatu dengan setiap tarikan nafas

jangan anggap aku dingin tak bernyawa

bukan mayat

bukan pula manusia

aku hanyalah seonggok nyawa dalam limbah  airmata





Kamu Bukanlah Aku (sebuah refleksi)

14 04 2009

Taman itu sunyi senyap. Sudah tengah malam pula. Tetapi Kamu masih menelungkupkan badan. MulutMu berbisik tak terdengar. Yang kurasakan hawa dingin menusuk. Kantuk menyerang. Ingin rasanya ku pesan segelas kopi vietnam, pake susu kental manis. Supaya badanku terjaga kehangatannya dan mata tidak ikut terpejam. Aku ingin ikut menelungkup dan berbisik denganMu. Beberapa orang lainnya yang menemaniMu tertidur dengan pulasnya. Dengkuran keras membangunkan jengkerik kecil tua di balik rumput. Beliau kembali bernyanyi. Dingin semakin menusuk, ketika kulihat badanMu bergetar. Kamu sebentar mengangkat wajah, merah mataMu, menangis. Aku ingin mendekati dan mengajakMu pulang. Kembali ke rumah, bersama-sama dan kita beristirahat. 

WajahMu terlihat letih. Seharian ini kita sibuk makan bersama. Tidak seperti biasanya suasana hari ini. Rasanya ada yang menusuk hati. Entah apa.

Tiba-tiba keheningan malam tersentak. Segerombolan orang menyerang masuk. Mereka bilang mereka mencariMu. Mata mereka beringas marah. Tangan mereka membawa senjata. Mereka berteriak-teriak memanggil namaMu. Tidak ada perlawanan Kamu pergi dengan mereka. Kami kaget, tidak mampu berkata-kata. Kami marah. Teman kami mencabut senjatanya, Engkau melarang. Dan mereka membawaMu pergi. Pergi meninggalkan keheningan dan dinginnya malam taman itu.

Beribu-ribu tahun kemudian, aku tahu bahwa Kamu tahu apa yang akan terjadi. Kamu menangis malam itu. Jika aku menjadi Kamu, aku akan lari bersama mobil baruku. Aku akan pergi ke luar negeri dengan menggunakan kekuasaan yang ada. Aku tidak akan peduli berapa banyak orang yang akan menderita, yang penting aku tidak ada disini. Aku akan mengerahkan semua balatentara ku untuk membelaku. Menyerang balik. Membalas sakit hati. Tampar kiri balas dengan tampar kanan. Aku tidak akan sudi untuk merasakan sakit yang sudah terbayangkan semuanya.

Tetapi Kamu bukanlah aku, tidak akan Kamu biarkan orang lain menggantikanMu. Kamu…. bukanlah aku…….

(renungan ketika drama Jumat Agung dan Minggu Paskah sekelibat di hadapanku….,aku sungguh-sungguh tersungkur)





Membagi Dunia Dengan Bilangan

14 04 2009

Aku suka dengan kalimat ini. Tidak pernah tahu alasannya apa. Kata orang, karena aku punya kecerdasan angka. Hm… mungkin. Tetapi yang sangat aku sadari, aku senang dengan permainan katanya. Membagi dunia dengan bilangan. Kadang aku tambah, membagi dunia dengan bilangan ganjil.

Jangan ditanya lagi alasannya, karena tidak pernah ada alasan yang tepat untuk mendeskripsikan mengapa aku suka dengan kalimat itu. Suka aja.  Selesai. Sama seperti ketika melakukan pemilihan legislatif yang lalu, tidak ada alasan mengapa aku memilih caleg tertentu. Perempuan? Tidak juga. Ada juga caleg laki-laki yang aku pilih. Suka dengan partai tertentu? Enggak juga. Tadinya aku mau golput. Mau jadi golongan putih, biar keren. Tetapi kasak kusuk di depan papan foto-foto caleg membuatku tergoda untuk ikut nimbrung. Ikut melihat dan ikut menentukan contrengan. Jangan lagi ditanya alasannya. Membuat aku jadi pusing.

Jika dipikir-pikir, kalimatku bisa banget jika dihubung-hubungkan dengan PEMILU, membagi dunia dengan bilangan. Membagi Indonesia dengan bilangan, dengan jumlah, dengan angka. Berapa banyak memihak siapa. Hm….. kalimat yang mengandung arti padat. Harus dipatenkan….sebelum di angkat-diclaim- menjadi judul salah satu sinetron Indonesia, atau telenovela Amerika Latin…..





Tidak Harus Menjadi Baik

30 03 2009

Biarkan aku duduk dipangkuanmu dan menyanyikan lagu “Balonku ada Lima”. Aku ingin menari dihadapanmu dan bercerita mengenai dunia kita. Aku ingin melihat kamu tertawa. Berharap semua tangis yang ada di tubuhmu tumpah ruah ke dataran rendah dan habis tak tersisa lagi. Tidak ada yang tahu sejak kapan tangisanmu terhenti dan tersumbat. Dapatkah kamu terus bersandiwara dengan segudang tato di tubuh dan mengatakan kamulah yang terhebat?

Biarkan tangan kecilku ini memeluk tubuhmu yang sering bergetar ketika seisi dunia mengajakmu berbicara dengan bahasa mereka. Kamu sering menunduk hingga tak mampu melihat sekitar. Sejak kapan kamu menghilang? Bersembunyi dari kejaran tanggungjawab? Berkilah tak punya kemampuan?

Setahuku, pribadi periang itu ada di dalam kekerdilan yang kamu ciptakan sendiri. Norma-norma dan kepatutan memaksamu bertindak berlawanan. Kemanakah rasamu?

Biarlah kekecilanku merengkuh dirimu yang tak kuasa berdiri. Terkulai sudah kamu. Menangislah biarlah tertumpah semuanya. Tidak akan ada orang mengurungmu lagi dalam kegelapan kamar mandi. Tidak ada lagi yang memaksamu diam. Basahilah bajuku dengan airmata yang ada didalam dirimu. Yang sudah tersimpan ratusan juta tahun lamanya. Tidak ada yang merasa terganggu dengan nyanyian pedihmu. Jangan takut terhadap tikus yang mengintip. Atau air hitam yang mengambang. Renangilah danau kelam itu, kamu akan menemukan putri-putri ikan tersenyum. Aku menemani dari pinggiran sambil berlari-lari kecil.

Aku ingin berjalan dibelakangmu, menjaga jika kamu terseok. Menyusuri lorong waktu yang terang benderang dan penuh warna. Meninggalkan kegelapan dibelakang sana. Aku ingin membelai kepalamu dan berbisik akan ketenangan. Tidak ada larangan untuk kamu. Mari kita bersama menggambar pelangi. Dan menerangi dunia dengan  imaginasi. Kan ku biarkan kamu terkekeh, bercerita, menulis, dan berkomentar. Yuk sama-sama kita hidupkan rasa. Tidak ada desakan kemauan buat kamu. Tidak harus selalu menjadi baik kamu.

buat seorang sahabat yang terpanggil Gurun





Si Kecil

30 03 2009

Si kecil itu menatapku dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Badannya bergetar. Setetes air mata mengalir di pipinya. Tidak ada suara. Tak terdengar sedikit pun isak. Tangannya menggenggam lima butir gundu. Si kecil hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana dalam berwarna merah. Usianya sekitar lima tahun. ” Kemari Dik..” sapaku. Dia menjauh. Menghilang ke dalam kamar. Sunyi.

Esok hari, kutemui sikecil itu lagi. Bermain dengan butiran gundunya di muka rumah. Sendirian. Kucoba dekati perlahan. Agar tidak terkejut dia. Kusentuh pundaknya. Sikecil megangkat kepala. Matanya basah. Lagi-lagi dia menangis tanpa suara. Bergetar. Celana dalam berwarna merahnya kotor kena tanah. “Ada apa Dik..” sapaku. Sikecil menepis tanganku yang berada di pundaknya. “Jangan takut Dik,mengapa kamu menangis?” sapaku lagi. Matanya memerah. Sedikit ku dengar tangis mengalun seirama gerak tubuhnya. Tangannya erat menggenggam lima butir gundunya. Dia meringkuk.

Esok harinya lagi, kulihat si kecil bercelana dalam merah itu bermain layang di tanah lapang. Melenggak lenggok layang-layang tertiup angin. Tiada musuh, tiada kawan. Sendirian. Si kecil menikmatinya. Ditarik-tariknya tali yang mengikat layang. Menari tubuh kecilnya mengikuti irama layang. Siang menerik, matahari membakar. Silau. Aku terbangun. Si kecil pun menghilang…..





Papan Kehadiran

12 01 2009

Dia tertelungkup ditempat tidur. Beberapa detik kemudian membalikan badan. Terlentang menatap langi-langit kamar. Matanya kosong beradu neon yang menggantung. Bibirnya terkatup erat. Suasana hening. Yang terdengar hanya degup jantung berpacu cepat.

Dia menggapai telepon genggam yang menggeletak kaku di atas meja lampu samping tempat tidur. Menekan beberapa angka. Diam. Sunyi. Jantung berdegup. “nomer yang Anda hubungin sedang sibuk…,” sayup terdengar suara menyapa.Tangannya mencoba menekan beberapa angka lainnya. Terus menerus. Hingga habis menitan waktu. Dia menghentikan tangannya. Membanting telepon genggamnya diatas kasur agar tidak terbentur. Bibirnya berdesis pelan, samar terdengar ” Aku butuh bicara…, semua hilang”

Dia kembali menelungkup. Tergoncang-goncang badannya. Terbasahi tempat tidurnya dengan air mata. “Aku butuh bicara…,” desisnya lagi. Mengerang. Tubuhnya mengejang. Letih. Dia tertidur.

Siang itu, hari kelima dia mencari. Tersia-sia semua tarian tangannya menekan banyak nomer. Tak keluar sebaris kata pun jua dari mulutnya, tak ada yang mendengar. Letih dia menangis. Letih dia tertidur panjang. Dengan menyeret seluruh jiwa raga, dia berusaha bangun. Menopang tubuh dengan dua kaki dan melangkah meneruskan pencarian.

Satu persatu gedung dia masuki. Menatap setiap papan kehadiran.Dibacanya berurutan kebawah.

Dr.Blu Bla blo, psikolog terkenal, tidak ada.

Pemuka Agama, Dla Dlo Dlu, tidak ada.

Mr.Tlu Tli Tle, filsafat andal, tidak ada.

Mencari dan terus mencari. Setiap nama dipandang,diamati, dan diharapkan. Semua tidak ada. Dia menyeret kakiknya. Menyusuri setiap gedung, setiap tempat, setiap bangunan. Merintih. Sakit yang ditanggungnya semakin menggoroti. Setiap nama disetiap papan kehadiran tidak menunjukkan gejala ada telinga yang terbuka. Letih. Dia ingin menyerah.

Dia memutuskan beristirahat di pinggiran gang gelap, sempit, bau got. Duduk. Matanya nanar menatap tembok hitam bergambar grafiti. Lukisan penuh warna menghiasi gang gelap. Terus matanya dipermainkan. Tidak berkedip. Semakin tidak berkedip dan tidak mampu bernafas, ketika mata letihnya menatap sebuah tulisan kecil, lusuh, di atas papan kehadiran yang hampir habis digrogoti rayap,….TUHAN….ADA.