Dia tertelungkup ditempat tidur. Beberapa detik kemudian membalikan badan. Terlentang menatap langi-langit kamar. Matanya kosong beradu neon yang menggantung. Bibirnya terkatup erat. Suasana hening. Yang terdengar hanya degup jantung berpacu cepat.
Dia menggapai telepon genggam yang menggeletak kaku di atas meja lampu samping tempat tidur. Menekan beberapa angka. Diam. Sunyi. Jantung berdegup. “nomer yang Anda hubungin sedang sibuk…,” sayup terdengar suara menyapa.Tangannya mencoba menekan beberapa angka lainnya. Terus menerus. Hingga habis menitan waktu. Dia menghentikan tangannya. Membanting telepon genggamnya diatas kasur agar tidak terbentur. Bibirnya berdesis pelan, samar terdengar ” Aku butuh bicara…, semua hilang”
Dia kembali menelungkup. Tergoncang-goncang badannya. Terbasahi tempat tidurnya dengan air mata. “Aku butuh bicara…,” desisnya lagi. Mengerang. Tubuhnya mengejang. Letih. Dia tertidur.
Siang itu, hari kelima dia mencari. Tersia-sia semua tarian tangannya menekan banyak nomer. Tak keluar sebaris kata pun jua dari mulutnya, tak ada yang mendengar. Letih dia menangis. Letih dia tertidur panjang. Dengan menyeret seluruh jiwa raga, dia berusaha bangun. Menopang tubuh dengan dua kaki dan melangkah meneruskan pencarian.
Satu persatu gedung dia masuki. Menatap setiap papan kehadiran.Dibacanya berurutan kebawah.
Dr.Blu Bla blo, psikolog terkenal, tidak ada.
Pemuka Agama, Dla Dlo Dlu, tidak ada.
Mr.Tlu Tli Tle, filsafat andal, tidak ada.
Mencari dan terus mencari. Setiap nama dipandang,diamati, dan diharapkan. Semua tidak ada. Dia menyeret kakiknya. Menyusuri setiap gedung, setiap tempat, setiap bangunan. Merintih. Sakit yang ditanggungnya semakin menggoroti. Setiap nama disetiap papan kehadiran tidak menunjukkan gejala ada telinga yang terbuka. Letih. Dia ingin menyerah.
Dia memutuskan beristirahat di pinggiran gang gelap, sempit, bau got. Duduk. Matanya nanar menatap tembok hitam bergambar grafiti. Lukisan penuh warna menghiasi gang gelap. Terus matanya dipermainkan. Tidak berkedip. Semakin tidak berkedip dan tidak mampu bernafas, ketika mata letihnya menatap sebuah tulisan kecil, lusuh, di atas papan kehadiran yang hampir habis digrogoti rayap,….TUHAN….ADA.
Recent Comments