Sebuah Cerita dari Selatan Centrum Arnhem

Kota Arnhem di belahan Belanda hari ini masih sama seperti seminggu yang lalu. Sepi. Pusat perbelanjaannya tutup pukul lima sore. Beberapa club malam membukakan diri di bagian utara *Centrum (pusat kota), bergalon bir pun dipersiapkan untuk menyambut tamunya. Itu pun hanya sampai pukul dua pagi dihari biasa. Jika week end sampai pukul empat. Sementara di bagian selatannya hanyalah sebuah kota mati ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam. Saat itulah, burung-burung merpati pun mulai memutuskan mengepakan sayap meninggalkan centrum Arnhem. Hanya sebuah restaurant Indonesia yang tetap bertahan buka. Restaurant dengan pekerjanya kebanyakan pelajar-pelajar Indonesia yang butuh uang keseharian. Tempat itu buka hingga pukul sepuluh malam.

Satu dua pelanggan tampak terlihat jelas dari jendela restaurant. Mereka masih menikmati hidangan malamnya ketika jam centrum berdentang sepuluh kali. Kuteguk air liurku dalam-dalam menatap kenikmatan masakan di dalam sana. Maklum sebagai pelajar, jarang aku dan teman-teman serumah dapat menikmati hidangan senikmat itu. Mahal. Terbayang di Jakarta kami dapat memakan sepotong rendang dimana pun kami suka dengan tarif yang murah. Dingin mengigit tubuh. Merinding aku. Tangan beku memegang sepeda kumbang yang kubeli seharga 35 euro. Kulirik jam di pergelangan tangan, 22.15. Tak ada gejala tamu-tamu itu akan beranjak pergi. Sementara diri sudah beku menunggu di seberang pintu restaurant, menunggu ‘calon’ kekasih hati keluar dari pintunya dan berjalan bersama menuju pulang atau nongkrong di warung kopi dekat apartemennya menghabiskan malam berdua.

Hari itu sama seperti hari-hari yang lainnya, setiap malam ku ‘bela-bela in’ berdiri di depan restaurant itu. Menunggu seseorang yang sudah mengganggu kehidupan jiwaku berbulan-bulan lamanya. Seseorang yang membuatku nyaman untuk berbagi mimpi dan cerita. Nongkrong di warung-warug kopi di Centrum. Berkelakar, menangis, dan marah tetapi tanpa memastikan bentuk hubungan ini. Hanya sebuah rasa hangat mengalir lembut dalam darahku, memanaskan tubuh dari dinginnya hembusan angin Desember.  Tetapi malam ini kuingin sesuatu yang berbeda dari malam-malam yang telah lewat. Aku ingin melegalkan hubungan ini. Status yang jelas, siapakah aku baginya. Kupersiapkan diri, jiwa, dan raga. Berlatih di depan cermin untuk menyatakan rasa. Terserah dianggap apa kok perempuan duluan yang menyatakan cintanya kepada seorang lelaki. Ku tak peduli. Jiwaku melambung. Niatku fokus. Malam ini aku akan menyatakannya.

“Hai sudah lama menunggu?” seketika ku dengar suara lembutnya. “Akhirnya pulang juga tuh tamu. Lama banget makannya. Mungkin terlatih menguyah sebanyak 32 kali.” suaranya ringan mengalir. “Lapar aku. Kamu sudah makan?” tanyanya lagi. “Tumben kamu belum makan? Gak dikasih ama boss?” tanyaku menanggapinya sambil mencoba menenangkan jantung yang berdebar keras sekali. *duh bisa diem gak yah nih suara jantung, jika kedengaran gimana?- kataku pada diriku sendiri. “Gak. Semuanya habis ludes. Gak ada sisa. Duh perutku keroncongan banget. Kamu gak denger apa?” katanya lagi. “Yuk yak yuk kita jalan,” katanya sambil menaiki sepedanya. Duh keren banget sih caranya ketika menaiki sepedanya. Badannya yang kekar semakin menunjukkan keperkasaannya saat sadel sepeda diduduki. Kakiku melemas akibat jantung berdebar keras sekali.  “Kenapa kamu diam saja? Mari meluncur kita. Lapar sekali. Kita menuju warung kentang di pojokan. Sari menunggu di sana. Kami baru aja jadian loh. Yuk kita rayakan.” teriaknya sembari mengayuh sepedanya. Dan aku mengikutinya dari belakang , mengayuh sepeda kumbangku. Sekali lagi bungkam menenangkan diri menenggelamkan pernyataan rasaku padanya. Tercekat tak berani kuberkata-kata. Cintaku jauh sekali rasanya. Sejauh jarak sepeda kami. Setetes air mengalir dari mataku.

Mengingat kembali Centrum, Arnhem,Belanda

Agustus 2011


Gadis Penyemir Sepatu

(sebuah mimpi yang jadi kenyataan)

Siang ini udara terik sekali. Hujan sedang enggan membasahi aspal-aspal Ibukota. Pejalan kaki mempercepat langkah menghindari garangnya matahari. Mencoba berlindung di balik bayangan diri. Pedagang kaki lima di pinggir jalan pun sibuk menghitung keuntungan berharap ada nilai lebih untuk membeli kipas angin. Pelanggan warung soto menyantap hidangannya dengan cepat seiring dengan keringat yang menetes dan membasahi kerah baju. Berlomba mereka meminum teh tawar bercampur es agar kerongkongan segera terbasahi dan kesejukan terasa. Nikmat dan mantab. Di antara pelanggan tampak seorang gadis kecil mantan penyemir sepatu. Duduk menikmati soto hangat dan air putih dingin. Bola mata kecilnya berputar menatap setiap sepatu di kaki orang-orang sekitar, maklum sudah menjadi kebiasaan. Dia mencoba memilah dan memilih orang yang akan didekati untuk disemirkan sepatunya. Gadis itu menarik nafas panjang mengembalikan kesadarannya. Tanpa tersadari, selintas rentetan peristiwa hidup menari-nari di hadapannya.

Gadis kecil itu bernama Pertiwi, panggilannya Iwi, usia 15 tahun. Pernah menuntut ilmu di sekolah lapang alias sekolah di lapangan sepak bola setiap sore. Diajar oleh mbak-mbak dari Yayasan Peduli Pendidikan. Ayahnya kabur meninggalkan keluarga semenjak usianya tiga tahun. Sebelum rumah mereka tergusur, Ibu bekerja menjadi babu cuci keliling di apartemen mewah yang berbatasan dengan rumah petakan mereka. Apartemen tempat mencari nafkah Ibunya itu sekaligus juga menjadi sumber bencana kehidupan mereka. Lokasi yang strategis membuat petakan terancam tergusur. Proyek apartemen direncanakan diperluas karena permintaan terhadap tempat tinggal meningkat. Air tanah akan semakin tersedot habis hingga ke sumber-sumbernya, Ibukota akan mengering. Sebelum proyek itu diperluas, Iwi dan Ibu sudah harus berhemat-hemat menggunakan air.

Hampir setiap hari, Iwi dan Ibu harus berhadapan dengan petugas Kelurahan, Kecamatan, satpam apartemen, preman pasar, dan mas-mas plente berdasi yang membujuk memberikan sejumlah uang penggusuran. Rumah petakan digantikan dengan dana dengan jumlah sangat kecil untuk mencari sepetak rumah lagi di Ibukota apalagi untuk menyambung hidup. Rayuan mesra yang dikumandangkan berbulan-bulan tanpa pengiyaan dari Ibu dan beberapa kepala rumah tangga lainnya di daerah tersebut berbuntut penggusuran paksa dan pemblokiran jalan masuk. Ibu dan beberapa kepala keluarga lainnya berjuang keras mempertahankan harta millik mereka. Melakukan aksi protes. Berteriak menuntut keadilan. Menyuarakan keletihan dan kepedihan. Sia-sia. Tak ada yang mendengarkan. Semua telinga tertutup rapat. Keberlanjutan proyek apartemen wajib dijalankan. Petakan hanya merusak pemandangan ibukota tercinta. Ibu dan beberapa kepala rumah tangga lainnya terpaksa menerima ganti rugi yang tak punya nilai itu.

Berbulan-bulan mereka berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Dana menipis. Rumah tak juga tergantikan. Sekolah lapang tak lagi terkunjungi. Iwi sibuk membantu ibunya mencari dana untuk kehidupan. Babu cuci tidak diminati di wilayah tersebut. Ibu putus asa.  Iwi membanting tulang. Menjadi penyemir sepatu di mana saja. Jam berapa saja. Yang penting kebutuhan harian terpenuhi. Rontok badan tak dirasakan. Keletihan jiwa pun tak dipedulikan. Dibiarkannya keseharian jiwanya diisi dengan nyanyian dan doa-doa kepada cakrawala. Biar terus bersemangat dan diberkati. Rasa syukur terus dipanjatkan setiap waktu.  Hingga disuatu hari. Rontok badan membuat Iwi tersungkur. Terjatuh tepat dihadapan seorang  Ratu yang dengan sigap menarik tangannya. Di antara gelapnya pandang, Iwi melihat senyum lembut sang Ratu. Pelukan hangat menentramkan jiwa. Iwi merasa doanya di dengar. Teriakannya ditanggapi. Nyanyiannya disambut musik surgawi. Hangat. Nyaman dan aman. Senyum itu semakin dalam ketika sang Ratu juga menarik dan memeluk sang Ibu yang berputus asa masuk ke dalam istanaNya.

 


Puisi Cinta untuk Seorang Sahabat

Kesendirian tidak pernah membuatmu letih, Sahabat

Keributan dan keceriaan yang tercipta membuat kamu tidak pernah berduka

Keseharianmu, adalah cerita keperkasaan setiap waktunya…

Ketidak berdayaanmu adalah kedukaan kami

Kesakitanmu menjadi siksaan dan penderitaan bagi kami

Mari kesini sahabat, kami peluk dengan penuh cinta dan membiarkanmu menangis di dalamnya

Kisah perjalanan pencarian cintamu, Sahabat, adalah sebuah cerita kesejatian

Setiap tahapan yang muncul adalah bentuk dari pendewasaanmu

Sedikit demi sedikit pelukan kami engkau lepaskan mendaratkan jiwamu kepada pasangan yang engkau pilih…

Selamat berbahagia sahabat

Carilah bahagia dan terangmu

Jangan ragu merengkuh waktu dan membiarkannya beristirahat sejenak, letih sudah batinmu berlari dan mencari

Ingat (dan yang engkau selalu tahu), tangan-tangan ini tidak akan letih memelukmu….

trawas, 27 April2011


Penyerahan

Aku menyerahkan diri dalam kabut, yang sangat kusadari akan menerkamku bulat-bulat dan membiarkan larut menikmatinya.

Aku memberanikan diri menyapamu cinta meski kusadari tak dapat dirasakan.

Tidakkah kusadari bahwa kasihmu menyakiti? Memporakporandakan bangunan rapi yang tersusun puluhan tahun lamanya.

Aku terjatuh di wilayah yang sama, merasakan hal yang mirip, terluka sudah…

Hentikan sakit ini, berikan sedikit bahagia. Biarkan aku melangkah tanpa tersembunyi. Dimanakah engkau topeng? Jangan tergantikan dengan warna asliku. Biarkan kuteruskan memakainya, juga rompi pelindung luka.

Aku di sini bersama cakrawala membiarkan sakit menikam. Sampai kapan?

 sampai aku berani memutuskan…. (190411)


Dear

Cerita ini tertulis sudah dengan tinta emas di atas kertas warna warni.

Ada sebuah kasih disini, dikeheningan subuh kala adzan siap berkumandang membelah cakrawala.

Tak ada seorang pun dapat menenangkan kegelisahan hati selain sebaris kalimat darimu.

Beratus timeline dalam twitter tertata rapi. Aku berteriak padamu. Aku bertanya pada heningnya pagi dan kesepian diri.

Tak juga terpenuhi ruang hampa dalam diri. Kamu bagai burung yang terbang tanpa mampu kusentuh…

Cahayamu terang menyilaukan mataku. apalah aku ini bagimu, terang.

Sejenak sudah kurasakan hidup wahai cinta. Muncul di permukaan rasa yang terpendam tahunan. Sampai kapan kalimat retoris berseliweran tanpa mampu kuputuskan?

Wahai Adzan, berteriaklah latang membangunkan semua yang terlelap, termasuk ruang kosongku. (190411)


Kesepian ini

Jika saja tidak ada ketabuan dan aturan kemoralan serta kenormalan. Jika saja tidak ada tuntutan sosial dalam kehidupan. Sudah kuteriakan pada dunia betapa rasa ini meledak padamu. 

Tiap detik adalah saat terindah ketika kesemuanmu menemani perjalanan hidupku. 

Kamu tidak bersosok, tidak berwujud, tidak tampak. Tetapi kamu ada. Ohhhh kesepian ini menarik-narik hidupku. 

Ingin kulukis kesemuanmu. Agar semua orang tahu kamu ada dan berwujud.

Andai saja tidak ada aturan-aturan ini, wujudmu sudah jelas ada di depanku… saat ini….




Si Utik, Gadis Pantai Utara Pulau Jawa

(Kampung Nelayan, adalah kampung yang penuh cerita. Cerita duka terbalut ceria menjadi bagian perjalanan keseharian nelayan. Berikut ini adalah satu dari banyak cerita yang terjadi di kampung nelayan di Indonesia)

Satu persatu pakaian yang terjemur jatuh ke tanah ketika angin kencang bertiup di kampung di pesisir pantai utara Jawa. Beberapa perahu tampak oleng mencoba melepaskan diri dari ikatan. Anak-anak kecil berlarian keluar dari permandian laut menuju ke rumah masing-masing. Sang Ibu berteriak nyaring, meneriakan setiap nama dalam keluarganya agar segera bersarang di dalam rumah yang aman dari amukan angin dan gelombang pantai. Sang Ayah menghentikan kegiatan bermain dengan jalanya. Menggendong anak-anak. Masuk ke dalam rumah, berkumpul bersama keluarga. Angin laut makin kencang bertiup. Saat si Utik berlari telanjang meninggalkan sarang. Baginya bermain di pantai adalah kebiasaan, tak peduli adanya badai atau tidak. Hidup itu hanya sekali dan wajib dinikmati. Si ibu berteriak cemas, sang Ayah hanya menatap tajam, menghirup rokok kretek dalam-dalam. Tak mampu berkata-kata. Utik menderita kelainan jiwa. Ia memiliki kawan sepermainan yang tidak seorang pun tahu siapa dia. Istilah asingnya, Schizophrenia. Tak ada seorang pun yang tahu sejak kapan si Utik seperti itu kecuali sang ibu dan ayah yang hanya mampu menghela nafas setiap si Utik telanjang berenang di pantai bersama kawan bayangannya itu.

Utik gadis cantik berusia tujuh belas tahun. Cerdas dan lembut tutur katanya. Semua orang di kampung nelayan itu menyukainya. Beberapa lelaki bahkan memuja dan menjadikannya bahan omongan setiap upacara minum kopi di kedai. Atau ketika merajut jala sebelum melaut bersama para ayah mereka.  Utik gadis cerdas yang bersekolah dan memiliki cita-cita tinggi. Berbeda dengan gadis-gadis pantai lainnya yang tidak bersekolah karena siap dinikahkan oleh orang tua mereka lantaran miskin. Orang tua Utik mendukung pendidikannya. Dicarikannya biaya bersekolah. Jungkir balik, bekerja apa pun asal Utik bersekolah dan memiliki masa depan. Berbahagialah wahai Utik, perempuan kampung nelayan, yang bersekolah tinggi.

Sayang kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Juragan tua,  beristri dua dan beranak tujuh mengincarnya. Ingin dia memiliki istri muda agar kejantanannya terus teruji dan terbukti. Utik menolak. Orang tua pun mendukung penolakan tersebut. Penolakan itu menyakitkan si Juragan Tua. Dendam sudah dia karena tak terbiasa menerima penolakan. Si Utik diperkosanya sepulang bersepeda dari sekolah.

Semenjak saat itu, Utik pun murung. Tak bicara, tak bekerja, tak sekolah. Hidupnya mengurung dalam rumah. Sang Ayah tak mampu mengobarkan marah ke Juragan Tua lantaran orang itu memiliki preman-preman terpelihara. Ayah hanya bisa menyedot rokok kretek dalam-dalam, menahan sakit dan air mata karena tidak mampu membela sang anak semata wayangnya. Tiga tahun setelah kejadian itu, tiba-tiba Utik kembali ceria. Setiap hari dia berceloteh. Bercerita banyak hal kepada ruang kosong. Matanya tajam menatap sesuatu yang tidak ada seorang pun dapat melihatnya. Mulutnya bercerita mengenai banyak hal yang tidak ada satu pun yang mengerti maknanya. Ayah semakin mengutuk dalam hati, hai Juragan Tua matilah kau ke neraka! Tetapi kalimat itu hanya tersimpang rapat tak mampu disuarakannya. Hanya asap rokok tebal membumbung ke udara.

Setiap sore, Utik akan berlari telanjang ke pantai. Memanggil-manggil nama yang tak satu pun tahu berjenis kelamin apakah dia. Senyum menghias bibirnya. Senyum manisnya terus terukir di wajahnya. Menjelang maghrib barulah Utik kembali ke rumah, berjalan telanjang sembari bercerita panjang kepada ruang kosong.

Siang itu, sama seperti siang-siang selama tiga tahun belakangan. Utik berenang telanjang di pantai diiringi angin kencang. Ibu mencoba melarangnya karena ada rasa aneh hinggap di hatinya. Utik malah berlari menghindari sang Ibu. Ayah tidak dapat membantu apa-apa. Rasa bersalah telah membelenggunya untuk terus diam ditempat menyaksikan Utik yang berlari semakin menjauh dari rumah bersama sang Kawan yang tidak tampak. Maghrib pun menjelang. Utik tidak kembali ke rumah. Ibu berlari tergopoh mencari ke pantai. Tak ada satu pun manusia yang melihat keberadaan Utik selepas maghrib.  Terakhir mereka lihat, Utik melompat ke laut berenang bersama Sang Kawan menuju laut lepas…

(Kuta, 23 Maret 2011)

 


Cinta

Galau. Hatinya sakit. Dipaksa nikah mengacaukan pikirannya. Suara ibunya dari yang bernada lembut hingga teriakan nenek lampir berkumandang di telinganya. Memainkan nada-nada minor tinggi, merusak setiap lapisan pendengaran. Tatapan dingin mata ayahnya membuat dirinya tak berdaya. Hanya mampu mengangguk, menggigit bibir. Terdiam. Dan menangis.

Cinta. Tak ada cinta dihatinya untuk lelaki itu. Pintu terdalamnya sudah dibuka oleh orang lain. Pelukan orang itu terasa menghangatkan sebagian jiwanya yang mulai mendinginkan arti cinta di hati. Beban. Sebagai anak perempuan tertua, kewajibannya adalah mengurangi beban keluarga. Bekerja dan atau menikah dengan lelaki kaya adalah hukum wajib di kampung miskin itu. Entah lelaki itu duda, perjaka, bahkan banci sekali pun tidak apa-apa untuk dinikahkan. Yang terpenting adalah status pernikahan, keterjaminan materi untuk keluarga besar, dan mengurangi beban keluarga. Kalau nanti jadi janda atau simpanan sekalipun dihalalkan.

Beku. Hatinya semakin membeku. Berbulan menikah tak jua mampu dihadirkannya cinta untuk lelaki tampan kaya yang resmi menjadi suaminya setelah memberikan mas kawin kontrak rumah setahun dibayar tunai. Resmi menjadi istri keduanyalah dia. Ibu tertawa senang. Ayah tersenyum bangga. Adik-adik berlarian ceria. Pesta kawin berlangsung sederhana dimeriahkan organ tunggal.

Cinta. Dengan alasan cinta dan tidak mau menyakiti, lelaki tampan itu meninggalkannya menikahi perempuan ketiga. Selain itu terdapat sebuah alasannya klasik yang mengesahkan perceraian terjadi karena dia tidak mampu memberikan keturunan untuk suaminya. Ibu menangis meraung-raung. Sokongan dana terhenti. Dan dia pun beranjak ke luar negeri demi menyokong keluarga.

Bangga. Kebanggaan terhadap negara membuat dirinya bekerja sangat rajin. Disukai anak majikan membuatnya mendapatkan noda. Dirinya pun berlari mencari perlindungan ke kantor diplomat negara tercintanya. Pintu perlindungan yang diharapkannya ternyata tertutup sangat rapat baginya. Kata pintu itu, noda itu diberikan karena kesalahannya sendiri. Dia terlampau cantik. Dia tidak mengenakan baju yang pantas. Dia menggoda anak majikannya.

Sakit. Hatinya terluka sangat dalam. Dia berlari tanpa surat resmi karena ditahan majikannya, tanpa jaminan, tanpa ketenangan. Kakinya terus berlari mencari keselamatan di kota lain negara itu. Batinnya terus bertanya mengenai arti kata cinta itu butuh pengorbanan, yang sering terbaca di truk-truk angkutan tanah di kampungnya.

Sayup dalam hatinya yang terdalam dan terluka didengarnya sebuah lagu penutup acara televisi di kampungnya dulu, lagu kebangsaan tanah airnya… Dia menangis. Cinta…?

Terinspirasi dari cerita mbak Erna di kota Petra,

Yordania November 2010


Perempuan Itu Tahu

Perempuan itu tahu, lelakinya berselingkuh. Berulang kali dipergokinya sang lelaki sibuk memainkan smsnya. Tersenyum, matanya berbinar. Binaran yang tidak lagi dijumpainya ketika mereka berhadapan. Berulang kali didengarnya sang lelaki bertelpunan dengan bisik-bisik mesra dimalam hari. Ditemukan tagihan kartu kredit pembelian barang-barang yang tidak pernah dinikmati dirumah itu. Dilihatnya sang lelaki bersepeda pagi berdua perempuan muda, tidak cantik. Hatinya sakit. Dunia runtuh. Keperkasaan sang lelaki yang dibanggakannya tercoreng. Harga dirinya tercabik-cabik. Menangis sudah tak mampu lagi. Ingin mengakhiri cinta, tiga gadis kecil menari-nari dihadapannya. Tiga gadis kecil yang membutuhkan keperkasaan sang lelaki. Hari demi hari dijalani dalam kepalsuan. Mengatur pengeluaran dengan sebaik-baiknya itu yang dilakukannya. Memeluk ketiga gadisnya menjadi sumber kekuatan.

Gadis itu tahu, ayahnya berselingkuh. Beberapa surat cinta tergeletak manis terbacanya. Ayahnya seorang penulis puisi cinta yang hebat. Siapa pun akan jatuh cinta padanya. Seperti gadis itu jatuh cinta pada Ayahnya. Gadis itu terluka hatinya. Menyimak lembar demi lembar curhatan cinta sang Ayah untuk perempuan lain. Hari demi hari dijalaninya dengan memeluk Ibunya. Memberi kekuatan tanpa Ibunya sadar bahwa sang gadis kecilnya tahu lelaki pujaan mereka telah mengkhianati cerita cinta.

Bertahun-tahun sudah cerita kemarahan terpendam itu berjalan. Perempuan itu bertambah tua, gadis-gadis kecil beranjak menjadi perempuan dewasa. Cerita sakit itu terus mengalir hingga akhirnya sang lelaki tak kuasa memamerkan keperkasaannya. Sayapnya patah. Kekayaannya habis. Perempuan muda itu berlari. Memeluk lelaki-lelaki yang lebih bernyali.

Ayah tersungkur dimuka sang Perempuan. Tangannya bergetar mohon ampun. Hutang demi hutang membelitnya. Tagihan setiap hari mencekamnya. Ayah, lelaki perkasa itu menjadi tua tak berdaya. Puisi cinta berhenti mendadak. Sang Perempuan tersenyum lembut. Menggenggam tangan sang lelakinya. Hatinya bergolak. Tetes air mata jatuh menerpa kepala sang lelaki…”Terimakasih Bapa, Kau jawab doaku selama bertahun-tahun ini, dia kembali. Biarlah kini dia bekerja di ladangMu Bapa…”, batin perempuan itu lirih bicara.

 

Jakarta,9 november2010

Buat seorang ibu yang mampu mengembalikan

sang lelaki ke padang Tuhan, Maria Floribertha


Malaikat Cantik itu Datang

Malam ini sama seperti malam-malam yang lain. Panas. Tak dapat bernapas. Tertatih perempuan tua itu membuka pintu rumah petaknya. Mencari sedikit angin. Gelap. Seperti biasa malam adalah hitam. Angin sedikit bertiup. Mendinginkan sejenak suasana. Diliriknya sang lelaki tertidur lelap beralas tikar lusuh. Bau semilir kali hitam depan rumah tercium.  Gelisah sang perempuan tampaknya. Matanya mencari-cari. Tangannya menyeka keringat yang tidak juga mau hilang walau angin bertiup pelan.

Hutang itu menyiksa dirinya. Besaran lima ratus ribu rupiah harus dilunasi. Hutang yang dicari untuk memberangkatkan sang lelaki menjenguk ibunya yang semakin sakit di kampung. Setiap pintu sudah diketuk untuk berhutang. Apa daya tak satu pun percaya seorang pemulung berhutang. Sementara waktu tidak juga mau berhenti untuk membiarkannya mengaso dan berpikir mencari teman yang mau memberikan pinjaman. Buntu pikirannya. Teriakan sakit dari kampung membuatnya nekad mengambil keputusan.  Tengkulak kampung memberinya belas kasihan dalam bentuk hutang dan bunga. Diterima tanpa ada pilihan. Berbakti dan mengabdi itu yang utama baginya saat ini. Untuk selanjutnya dirinya harus berjibaku.

Setiap hari dicobanya mengais bekas gelas plastik, diinjak agar gepeng, sekilonya dihargai tiga ribu rupiah. Sehari paling hebat hanya mampu tiga kilo. Sang lelaki, sang ibu –yang jauh lebih tua lagi- berlomba mencari botol-botol plastik. Dari gundukan sampah yang satu ke gundukan lainnya. Tidak juga mampu memenuhi  hutang. Nanar matanya. Perih dadanya. Menangis raganya. Sudah tidak mampu bersuara.

Tiba-tiba dilihatnya sekilas. Seorang malaikat cantik datang mendekat. Matanya lekat menatap. Perempuan tua menahan nafas. Keringat dingin mengucur deras. Benarkah malaikat atau kuntilanak? Tak mampu kaki beranjak. Terpaku. Terdiam. Membisu. Malaikat cantik semakin dekat. Tersenyum. Ayu, bisik perempuan tua. Ini bukan kuntilanak. Ini bidadari Tuhan. Bisiknya lagi. Dalam hati. Tak ada yang mendengar. Tangan malaikat cantik menyentuh tangannya. Waow hangat. Memberikannya sebuah amplop putih. Baunya harum anggur. Maklum amplop buatan Taman Firdaus. Tanpa berkata, malaikat itu pun pergi. Sang perempuan tua terpesona. Dibukanya amplop. Lima lembar ratusan ribu tersenyum manja, menggoda sang perempuan tua.

“ Bu…ibu…,” suara sang lelaki samar terdengar. Mengagetkan sang perempuan tua. Tangannya serentak membersihkan liur karena pulas tidur. Didapati dirinya tertidur di sebelah tumpukan sampah plastik bekas pesta di depan café di kota besar. Tangannya kosong bergetar. Tak ada amplop putih. Yang ada hanya kayu untuk mencari plastik sampah. Matanya berharap mencari seorang malaikat dari Taman Firdaus. Terus mencari. Hingga mata tua terpaku melihat seorang gadis manis, duduk manis di dalam café. Gadis cantik sedang mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dalam dompetnya membayar sebotol minuman anggur. Tertawa manja bersama sang pacar.

Jakarta, 14 Juli 2010

Terinspirasi cerita perempuan pemulung di kota Malang


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.