Dua hari satu malam ketika saya berada di Yogya. Dua cerita dunia gelap menjadi babak cerita bersambung yang entah kapan bisa diselesaikan. Semuanya mengenai hubungan cinta. Yang satu terus menerus disakiti oleh sang pacar, baik secara ucapan maupun tindak laku. Yang satu berharap si Idola sejalan seperti skenario di alam pikirnya sendiri. Dan kedua-duanya tidak tahu kapan menghentikan babak dan berganti ke buku lainnya.
Kita memang sering terdiam disatu tempat tanpa beranjak kemana-mana. Menggeluti sesuatu tanpa berniat meninggalkannya. Menjadi kebiasaan berlama-lama bercanda bersama malam.Terlalu nyaman atau tidak sadar bahwa diri tetap ditempat.
Ada yang pernah bilang, hidup adalah tangga yang harus didaki. Setiap kita lulus di setiap anak tangga, maka kita akan naik ke tahap selanjutnya. Tetapi jika tidak, kita akan terus berada disana. Jika pun merasa naik, sebenarnya kita berkutat, berputar di lokasi yang sama.
Saya sudah menjalani banyak anak tangga. Memutari beberapa tingkatan. Merasa sudah lulus ternyata belum. Berjalan sejajar tetapi merasanya sudah jauh sekali mendaki. Saya juga pernah menangisi cinta. Depresi kehilangan. Ingin menghentikan waktu dan berharap semuanya kembali normal. Tetapi ya tidak bisa. Memang itu yang harus dijalani dan itulah yang terbaik. Terbaik belum tentu menyenangkan.
Mendengar dua drama kelam mereka. Membuat saya jadi terdiam. Saya pernahkah di posisi itu? Pernahkah saya enggan untuk bangun? hm.. sebuah refleksi di awal usia baru saya
Recent Comments