Akhir-akhir ini kami dihebohkan dengan perhitungan bunga, hutang, cicilan, dan kreditan. Setiap dari kami mulai mencari informasi untuk membeli asset. Tetapi sepertinya saya yang paling senang mempelajari ini semua. Semua peraturan, perhitungan saya lahap. Menelpun para marketing perbankan menjadi keseharian. Berhitung secara visual menjadi hobi. Membayangkan jumlah yang akan dikeluarkan setiap bulan adalah hiburan di bulan puasa.
Kami berniat membeli aset. Aktiva tetap -dalam istilah akuntansinya- dengan dana yang terbatas. Kami mau punya apartemen -istilah kerennya tetapi sebenarnya rusunami- dan ada juga yang mau membeli mobil. Mungkin karena faktor usia, kami semua mulai berpikir untuk menetap dan membelanjakan uang ke aktiva-aktiva tetap yang memiliki nilai depresiasi.
Mengingat keterbatasan dana yang ada, niat kami adalah mencari kredit. Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) kami pelajari. Setiap perhitungan bunga dan besar cicilan menjadi diskusi menarik tiap malam, saat nongkrong. Pengetatan ikat pinggang, menjadi agenda dalam beberapa tahun belakangan ini. Mencari tambahan penghasilan -ngamen kiri kanan- udah pastilah.
Hari ini, saya nongkrong di lokasi bakal rusunami yang kami beli, nongkrong di customer servicesnya. Dari jam 9 pagi hingga jam 12, mengurus balik nama, dll. Selama beberapa jam nongkrong tersebut, saya mencuri dengar percakapan banyak sekali orang yang datang untuk mengecek KPAnya. Apakah disetujui atau tidak. Dan kebanyakan tidak disetujui. Alasannya tidak satu pun yang bisa diterima diakal. Ada yang gak pernah dihubungi eh tau-tau ditolak. Si Bapak yang ditolak ini marah berat. Dia bilang kenapa bank tersebut tidak memberitahu apa-apa dan sekarang ditolak. Dan bagaimana nasib unit yang dia beli? Jawab mas customer service, ambillah kontan bertahap 1 tahun tanpa bunga sebesar 11 juta setiap bulan, atau kontan bertahap 2 tahun dengan dikenakan bunga dan besarannya sekitar 7, …. Bapak itu bilang, waduh mana sanggup saya membayar segitu. Mas customer diam. Kemudian si Bapak berkata lagi, bagaimana jika di bulan kedua saya bayar 50 juta, kemudian sisanya baru dibagi 11 bulan, jadi kan lebih ringan.
Mas Customer Service bengong…Saya bingung…., “katanya gak punya duit….”. Sementara si Bapak tersenyum sambil memegang name tagnya yang bertuliskan nama sebuah lembaga pemerintah di Jakarta….




