Malam ini sama seperti malam-malam yang lain. Panas. Tak dapat bernapas. Tertatih perempuan tua itu membuka pintu rumah petaknya. Mencari sedikit angin. Gelap. Seperti biasa malam adalah hitam. Angin sedikit bertiup. Mendinginkan sejenak suasana. Diliriknya sang lelaki tertidur lelap beralas tikar lusuh. Bau semilir kali hitam depan rumah tercium. Gelisah sang perempuan tampaknya. Matanya mencari-cari. Tangannya menyeka keringat yang tidak juga mau hilang walau angin bertiup pelan.
Hutang itu menyiksa dirinya. Besaran lima ratus ribu rupiah harus dilunasi. Hutang yang dicari untuk memberangkatkan sang lelaki menjenguk ibunya yang semakin sakit di kampung. Setiap pintu sudah diketuk untuk berhutang. Apa daya tak satu pun percaya seorang pemulung berhutang. Sementara waktu tidak juga mau berhenti untuk membiarkannya mengaso dan berpikir mencari teman yang mau memberikan pinjaman. Buntu pikirannya. Teriakan sakit dari kampung membuatnya nekad mengambil keputusan. Tengkulak kampung memberinya belas kasihan dalam bentuk hutang dan bunga. Diterima tanpa ada pilihan. Berbakti dan mengabdi itu yang utama baginya saat ini. Untuk selanjutnya dirinya harus berjibaku.
Setiap hari dicobanya mengais bekas gelas plastik, diinjak agar gepeng, sekilonya dihargai tiga ribu rupiah. Sehari paling hebat hanya mampu tiga kilo. Sang lelaki, sang ibu –yang jauh lebih tua lagi- berlomba mencari botol-botol plastik. Dari gundukan sampah yang satu ke gundukan lainnya. Tidak juga mampu memenuhi hutang. Nanar matanya. Perih dadanya. Menangis raganya. Sudah tidak mampu bersuara.
Tiba-tiba dilihatnya sekilas. Seorang malaikat cantik datang mendekat. Matanya lekat menatap. Perempuan tua menahan nafas. Keringat dingin mengucur deras. Benarkah malaikat atau kuntilanak? Tak mampu kaki beranjak. Terpaku. Terdiam. Membisu. Malaikat cantik semakin dekat. Tersenyum. Ayu, bisik perempuan tua. Ini bukan kuntilanak. Ini bidadari Tuhan. Bisiknya lagi. Dalam hati. Tak ada yang mendengar. Tangan malaikat cantik menyentuh tangannya. Waow hangat. Memberikannya sebuah amplop putih. Baunya harum anggur. Maklum amplop buatan Taman Firdaus. Tanpa berkata, malaikat itu pun pergi. Sang perempuan tua terpesona. Dibukanya amplop. Lima lembar ratusan ribu tersenyum manja, menggoda sang perempuan tua.
“ Bu…ibu…,” suara sang lelaki samar terdengar. Mengagetkan sang perempuan tua. Tangannya serentak membersihkan liur karena pulas tidur. Didapati dirinya tertidur di sebelah tumpukan sampah plastik bekas pesta di depan café di kota besar. Tangannya kosong bergetar. Tak ada amplop putih. Yang ada hanya kayu untuk mencari plastik sampah. Matanya berharap mencari seorang malaikat dari Taman Firdaus. Terus mencari. Hingga mata tua terpaku melihat seorang gadis manis, duduk manis di dalam café. Gadis cantik sedang mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dalam dompetnya membayar sebotol minuman anggur. Tertawa manja bersama sang pacar.
Jakarta, 14 Juli 2010
Terinspirasi cerita perempuan pemulung di kota Malang