Gadis Penyemir Sepatu

(sebuah mimpi yang jadi kenyataan)

Siang ini udara terik sekali. Hujan sedang enggan membasahi aspal-aspal Ibukota. Pejalan kaki mempercepat langkah menghindari garangnya matahari. Mencoba berlindung di balik bayangan diri. Pedagang kaki lima di pinggir jalan pun sibuk menghitung keuntungan berharap ada nilai lebih untuk membeli kipas angin. Pelanggan warung soto menyantap hidangannya dengan cepat seiring dengan keringat yang menetes dan membasahi kerah baju. Berlomba mereka meminum teh tawar bercampur es agar kerongkongan segera terbasahi dan kesejukan terasa. Nikmat dan mantab. Di antara pelanggan tampak seorang gadis kecil mantan penyemir sepatu. Duduk menikmati soto hangat dan air putih dingin. Bola mata kecilnya berputar menatap setiap sepatu di kaki orang-orang sekitar, maklum sudah menjadi kebiasaan. Dia mencoba memilah dan memilih orang yang akan didekati untuk disemirkan sepatunya. Gadis itu menarik nafas panjang mengembalikan kesadarannya. Tanpa tersadari, selintas rentetan peristiwa hidup menari-nari di hadapannya.

Gadis kecil itu bernama Pertiwi, panggilannya Iwi, usia 15 tahun. Pernah menuntut ilmu di sekolah lapang alias sekolah di lapangan sepak bola setiap sore. Diajar oleh mbak-mbak dari Yayasan Peduli Pendidikan. Ayahnya kabur meninggalkan keluarga semenjak usianya tiga tahun. Sebelum rumah mereka tergusur, Ibu bekerja menjadi babu cuci keliling di apartemen mewah yang berbatasan dengan rumah petakan mereka. Apartemen tempat mencari nafkah Ibunya itu sekaligus juga menjadi sumber bencana kehidupan mereka. Lokasi yang strategis membuat petakan terancam tergusur. Proyek apartemen direncanakan diperluas karena permintaan terhadap tempat tinggal meningkat. Air tanah akan semakin tersedot habis hingga ke sumber-sumbernya, Ibukota akan mengering. Sebelum proyek itu diperluas, Iwi dan Ibu sudah harus berhemat-hemat menggunakan air.

Hampir setiap hari, Iwi dan Ibu harus berhadapan dengan petugas Kelurahan, Kecamatan, satpam apartemen, preman pasar, dan mas-mas plente berdasi yang membujuk memberikan sejumlah uang penggusuran. Rumah petakan digantikan dengan dana dengan jumlah sangat kecil untuk mencari sepetak rumah lagi di Ibukota apalagi untuk menyambung hidup. Rayuan mesra yang dikumandangkan berbulan-bulan tanpa pengiyaan dari Ibu dan beberapa kepala rumah tangga lainnya di daerah tersebut berbuntut penggusuran paksa dan pemblokiran jalan masuk. Ibu dan beberapa kepala keluarga lainnya berjuang keras mempertahankan harta millik mereka. Melakukan aksi protes. Berteriak menuntut keadilan. Menyuarakan keletihan dan kepedihan. Sia-sia. Tak ada yang mendengarkan. Semua telinga tertutup rapat. Keberlanjutan proyek apartemen wajib dijalankan. Petakan hanya merusak pemandangan ibukota tercinta. Ibu dan beberapa kepala rumah tangga lainnya terpaksa menerima ganti rugi yang tak punya nilai itu.

Berbulan-bulan mereka berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Dana menipis. Rumah tak juga tergantikan. Sekolah lapang tak lagi terkunjungi. Iwi sibuk membantu ibunya mencari dana untuk kehidupan. Babu cuci tidak diminati di wilayah tersebut. Ibu putus asa.  Iwi membanting tulang. Menjadi penyemir sepatu di mana saja. Jam berapa saja. Yang penting kebutuhan harian terpenuhi. Rontok badan tak dirasakan. Keletihan jiwa pun tak dipedulikan. Dibiarkannya keseharian jiwanya diisi dengan nyanyian dan doa-doa kepada cakrawala. Biar terus bersemangat dan diberkati. Rasa syukur terus dipanjatkan setiap waktu.  Hingga disuatu hari. Rontok badan membuat Iwi tersungkur. Terjatuh tepat dihadapan seorang  Ratu yang dengan sigap menarik tangannya. Di antara gelapnya pandang, Iwi melihat senyum lembut sang Ratu. Pelukan hangat menentramkan jiwa. Iwi merasa doanya di dengar. Teriakannya ditanggapi. Nyanyiannya disambut musik surgawi. Hangat. Nyaman dan aman. Senyum itu semakin dalam ketika sang Ratu juga menarik dan memeluk sang Ibu yang berputus asa masuk ke dalam istanaNya.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.