Sebuah Cerita dari Selatan Centrum Arnhem

Kota Arnhem di belahan Belanda hari ini masih sama seperti seminggu yang lalu. Sepi. Pusat perbelanjaannya tutup pukul lima sore. Beberapa club malam membukakan diri di bagian utara *Centrum (pusat kota), bergalon bir pun dipersiapkan untuk menyambut tamunya. Itu pun hanya sampai pukul dua pagi dihari biasa. Jika week end sampai pukul empat. Sementara di bagian selatannya hanyalah sebuah kota mati ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam. Saat itulah, burung-burung merpati pun mulai memutuskan mengepakan sayap meninggalkan centrum Arnhem. Hanya sebuah restaurant Indonesia yang tetap bertahan buka. Restaurant dengan pekerjanya kebanyakan pelajar-pelajar Indonesia yang butuh uang keseharian. Tempat itu buka hingga pukul sepuluh malam.

Satu dua pelanggan tampak terlihat jelas dari jendela restaurant. Mereka masih menikmati hidangan malamnya ketika jam centrum berdentang sepuluh kali. Kuteguk air liurku dalam-dalam menatap kenikmatan masakan di dalam sana. Maklum sebagai pelajar, jarang aku dan teman-teman serumah dapat menikmati hidangan senikmat itu. Mahal. Terbayang di Jakarta kami dapat memakan sepotong rendang dimana pun kami suka dengan tarif yang murah. Dingin mengigit tubuh. Merinding aku. Tangan beku memegang sepeda kumbang yang kubeli seharga 35 euro. Kulirik jam di pergelangan tangan, 22.15. Tak ada gejala tamu-tamu itu akan beranjak pergi. Sementara diri sudah beku menunggu di seberang pintu restaurant, menunggu ‘calon’ kekasih hati keluar dari pintunya dan berjalan bersama menuju pulang atau nongkrong di warung kopi dekat apartemennya menghabiskan malam berdua.

Hari itu sama seperti hari-hari yang lainnya, setiap malam ku ‘bela-bela in’ berdiri di depan restaurant itu. Menunggu seseorang yang sudah mengganggu kehidupan jiwaku berbulan-bulan lamanya. Seseorang yang membuatku nyaman untuk berbagi mimpi dan cerita. Nongkrong di warung-warug kopi di Centrum. Berkelakar, menangis, dan marah tetapi tanpa memastikan bentuk hubungan ini. Hanya sebuah rasa hangat mengalir lembut dalam darahku, memanaskan tubuh dari dinginnya hembusan angin Desember.  Tetapi malam ini kuingin sesuatu yang berbeda dari malam-malam yang telah lewat. Aku ingin melegalkan hubungan ini. Status yang jelas, siapakah aku baginya. Kupersiapkan diri, jiwa, dan raga. Berlatih di depan cermin untuk menyatakan rasa. Terserah dianggap apa kok perempuan duluan yang menyatakan cintanya kepada seorang lelaki. Ku tak peduli. Jiwaku melambung. Niatku fokus. Malam ini aku akan menyatakannya.

“Hai sudah lama menunggu?” seketika ku dengar suara lembutnya. “Akhirnya pulang juga tuh tamu. Lama banget makannya. Mungkin terlatih menguyah sebanyak 32 kali.” suaranya ringan mengalir. “Lapar aku. Kamu sudah makan?” tanyanya lagi. “Tumben kamu belum makan? Gak dikasih ama boss?” tanyaku menanggapinya sambil mencoba menenangkan jantung yang berdebar keras sekali. *duh bisa diem gak yah nih suara jantung, jika kedengaran gimana?- kataku pada diriku sendiri. “Gak. Semuanya habis ludes. Gak ada sisa. Duh perutku keroncongan banget. Kamu gak denger apa?” katanya lagi. “Yuk yak yuk kita jalan,” katanya sambil menaiki sepedanya. Duh keren banget sih caranya ketika menaiki sepedanya. Badannya yang kekar semakin menunjukkan keperkasaannya saat sadel sepeda diduduki. Kakiku melemas akibat jantung berdebar keras sekali.  “Kenapa kamu diam saja? Mari meluncur kita. Lapar sekali. Kita menuju warung kentang di pojokan. Sari menunggu di sana. Kami baru aja jadian loh. Yuk kita rayakan.” teriaknya sembari mengayuh sepedanya. Dan aku mengikutinya dari belakang , mengayuh sepeda kumbangku. Sekali lagi bungkam menenangkan diri menenggelamkan pernyataan rasaku padanya. Tercekat tak berani kuberkata-kata. Cintaku jauh sekali rasanya. Sejauh jarak sepeda kami. Setetes air mengalir dari mataku.

Mengingat kembali Centrum, Arnhem,Belanda

Agustus 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.